Tafsir Al quran

Kamis, 26 Maret 2015

MEMBURU HIDAYAH


HIDAYAH ITU MAHAL
Hidayah adalah sesuatu yang sangat mahal untuk didapatkan, maka sudah sepantasnya untuk dijaga dengan baik.
Ada sebuah kisah hidayah saat paman nabi meninggal
Hr bukhari muslim
Saat paman nabi yaitu abu tholib sakaratul maut, nabi datang menjenguk pamannya. Tapi ternyata disitu telah berdiri abu jahal dan Abdullah bin abi umayyah. Nabi berusaha untuk mengajak pamannya masuk dalam agama islam dan berkata “ wahai pamanku ucapkanlah kalimat “Laailaha ilallah”, karena dengan ucapan itu aku bisa membantu di hadapan Allah.”. sebelum abu tholib berkata, maka kedua pamannya yang lain langsung berkata “ hai abu tholib, apakah kamu sudah membenci agama abdul mutholib”. Maka abu tholib diam tak jadi berkata. Nabipun kembali meminta “wahai pamanku ucapkanlah kalimat “Laailaha ilallah”, karena dengan ucapan itu aku bisa membantu di hadapan Allah.”. sebelum abu tholib berkata, maka kedua pamannya yang lain kembali berkata “ hai abu tholib, apakah kamu sudah membenci agama abdul mutholib”. Sampai akhir hayatnya abu tholib berkata “ aku akan tetap setia pada agama nenek moyangku.”.
Nabipun menangis dan berkata “demi Allah, saya akan tetap meminta ampun untukmu selama tidak dilarang oleh Allah”. Kemudian setelah itu turunlah firman Allah 
surat at taubah ayat15 
artinya “ tidak boleh bagi nabi dan orang2 beriman untuk mendoakan ampunan bagi orang musrikin sekalipun itu kerabat sendiri”.
Nabi adalah orang yang paling mulia, namun beliau tidak mampu untuk memberi hidayah pada pamannya. Paman nabi yaitu abu tholib adalah orang yang sangat sayang dan selalu melindungi nabi sejak kecil sampai beliau diangkat nabi.
Sekarang bandingkan dengan kita, apa jasa kita kepada rosulullah? Tapi Allah tetap memberikan hidayah kepada kita . itu bukti bahwa Allah itu sangat sayang kepada kita. 

HIDAYAH ITU HARUS DICARI
Hidayah itu harus dicari semaksimal mungkin. Ada kisah dari sahabat yaitu salman al farisi ra, dia berasal dari Negara Persia (afganistan, dsb). Di negaranya penduduknya adalah penyembah Api. Salman itu sangat disayang oleh bapaknya, karena sayangnya salman itu dipingit ga boleh keluar. Ayahnya itu penjaga api agar tetap hidup. Suatu saat salman disuruh keluar untuk melihat kebun dan lewat gereja. Dia mendengar kok ada nyanyi2, maka salmanpun masuk ke gereja. Sampai sore hari salman pulang dan ditanya bapaknya.
Bapak salman” darimana saja kamu?”
Salman menjawab “ saya baru singgah di gereja, ada ajaran yang baguss”
Bapak salman berkata “ tak ada ajaran yang lebih bagus dari ajaran kita”
Kemudian salman pun diperketat penjagaannya tak boleh keluar sama sekali. Beberapa saat kemudian salman mendengar orang2 itu pergi ke negeri syam (syuria, irak dan sekitarnya). Saat itu syiria adalah pusatnya agama nasrani. Salman berpesan “ tolong dikabari, saya mau ikut”.
Akhirnya betul, salman berusaha melepaskan pasungannya dan pergi ke negeri syiria. Disana dia bertemu dengan pendeta. Salman berkata “saya ingin menjadi pemeluk agama nasrani, dan ingin menjadi pembatu di sini”. Kemudian di perjalanannya, salman itu tau bahwa pendeta itu adalah orang jahat, yang mengumpulkan upeti tapi hanya untuk dirinya sendiri.
Saat pendeta meninggal, dan akan dikubur kemudian salman berkata bahwa dia tak layak dikubur karena telah memakan harta yang ditariknya. Pendeta itu kemudian disalib.
Kemudian diganti oleh pendeta yang sholeh, saat pendeta akan meninggal, salman sedih dan berkata “ kemana saya akan pergi setelah kamu?
Pendeta berkata “ tak ada pendeta lain yang baik selain di mousul irak”.
Salman pun pergi ke irak dan berguru pada pendetanya. Pendetanya kemudian akan meninggal. Salmanpun bertanya lagi, kemana dia harus pergi.
Mereka berkata “ pergilah ke negeri nasibin afrika al jazair”. Salman pergi ke sana, singkat cerita pendetanya meninggal dan memberi petunjuk pergilah kau ke amuria romawi.
Sampai di romawi, salman bekerja sampai mendapat beberapa ekor kambing. Dan menjelang pendetanya wafat dia bertanya “ saya harus kemana lagi?”
Pendeta berkata “ tak ada lagi yang sholeh, tapi akan muncul sebentar lagi seorang nabi. Dan nabi itu tinggal di kota yang banyak pohon kurmanya. Cirri-cirinya adalah kalau dikasih sedekah tak mau makan dari sedekah itu, tapi kalau dikasih hadiah dia mau menerima. Di punggungnya ini ada tanda (sebesar telur) yang bentuknya agak hitam dan ada rambut sedikit dan tu adalah tanda kenabian.
Maka salmanpun mencari kabilah yang akan pergi ke tanah arab, dan berkata “ tolong antar saya ke tanah arab dan saya beri seluruh harta onta yang saya miliki”.
Sampai di tengah jalan, salman itu dikhianati. Kambing dan untanya dirampas dan salman dijadikan budak dan dijual. Akhirnya dia jatuh ke tangan yahudi. Dan datang keponakan yahudi itu membeli salman dan dia tinggal dikota madinah. Salman terus bekerja, sampai suatu saat ketika salman memetik buah kurma, majikannya kedatangan tamu yang berkata “ Telah datang orang yang menyebarkan agama, celakalah!!”.
Karena kagetnya, sampai dia itu hampir jatuh. Salman pun mengendap2 keluar dari tempat kerjanya dan mencari tau siapa nabinya. Kemudian setelah bertemu dengannabi , salman memberikan sedekah untuk nabi. Maka nabi menerima dan membagi2 kepada teman2nya dan nabi tak mau mengambilnya.
Salman berujar “Nah…inilah tanda yang pertama”
Pada lain hari, salman datang lagi dan memberi kurma seraya berkata “ ini adalah hadiah sebagai penghargaan untuk kamu dan teman2mu. Maka nabi menerima kurma itu, memakan nya dan membagikannya kepada teman2nya.”
Salman berujar “Nahhh ini adalah tanda ke dua, masih kurang tanda ketiga .
Suatu saat salman datang, kebetulan saat itu nabi sedang menguburkan salah seorang sahabatnya. Nabi memakai pakaian haji dan salman sengaja berdiri di belakang nabi. Nabi sadar apa yang salman lakukan. Nabipun membuka pakaiannya dan memperlihatkan tanda kenabiannya. Begitu salman melihat itu, salman langsung menangis memeluk nabi.
Nabipun bertanya “ apa saja yang kamu alami?” salmanpun bercerita, dan nabi sangat takjub dan meminta salman untuk bercerita kepada para sahabatnya.

HIDAYAH ITU CEPAT SEKALI HILANG
Jangan dipikir hidayah itu akan tetap ada sampai akhir. Karena rosul bersabda
HR MUSLIM
Rosulullh besabda “ bersegeralah kalian beramal, sebelum datang masa dimana saat itu banyak fitnah seperti gelapnya malam yang berlipat2. Akan datang suatu masa dimana seseorang yang paginya masih beriman dan sore harinya sudah kafir. Ada yang sore harinya beriman dan pagi harinya sudah murtad, yang menjual agamanya dengan dunia”.
Ulama berkata berhati2lah dengan penyakit “saufa” (nanti dulu), karena penyakit saufa adalah laskar elite iblis.
Hr bukhari
Rosul bersabda “ amalan itu dilihat dari akhirnya itu bagaimana”.
Jadi jangan beranggapan kita sekarang sholat, nanti kita sholat lagi.
Rosul bersabda “ ada sebagian manusia dari kecil sampai besar melakukan amalan2 penghuni surge akan tetapi ketika usianya tinggal satu jengkal, Allah menakdirkan dia melakukan perbuatan dosa dan dia meningggal dalam keadaan melakukan perbuatan dosa dan masuk neraka. Akan ada orang2 yang semasa hidupnya melakukan perbuatan maksiat, sejengkal sebelum meninggal dia rajin ibadah dan meninggal saat beribadah dan masuk surga”
Jadi jangan beranggapan jika sudah berhaji itu pasti masuk surga, jangan beranggapan demikian!!! Jangan juga kita mudah memvonis orang bahwa dia ahli neraka. Oleh karena itu hidayah harus dipegang erat jangan dilepaskan.

MACAM-MACAM HIDAYAH
Memang hidayah itu adalah hak Allah, tapi Allah berfirman
Surat as syuro ayat 52
“ wahai Muhammad sungguh engkau bisa memberi hidayah ke jalan yang lurus”.
Maksud ayat tersebut. Hidayah ada 2 yaitu hidayah hati dan hidayah arahan. Hidayah hati itu yang memiliki adalah Allah. Hidayah arahan adalah kita mengarahkan orang dalam kebaikan dan melarang dalam keburukan.
TINGKATAN HIDAYAH
Imam ibn qoyyim al jauziyah, “barang siapa mendapatkan 10 tingkat hidayah Allah maka mendapatkan hidayah yang sempurna”
1.       Hidayah menemukan ilmu dan kebenaran
Tidak semua orang yang pintar dan cerdas itu menemukan kebenaran islam. Dalam sejarah para filsuf ahli filsafat seperti Aristoteles, Socrates, dsb. Mereka pandai dan cerdas tapi tak menemukan kebenaran.
Maka itu Ibn taimiyah mengatakan “orang2 yang seperti itu, dikaruniai Allah kecerdasan otak tapi tak dikaruniai kebersihan hati”.
2.       Hidayah agar diberi kemampuan dan kekuatan untuk mendapatkan ilmu
Tidak semua orang juga yang menemukan ilmu tapi tak mampu mendapatkan ilmu. Banyak kendala yang mungkin dialami, dari mulai kekuatan fisik, kesehatan juga masalah biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan ilmu. Bisa jadi dia ingin masuk pondok pesantren, tapi dia tak mampu secara financial. Atau mungkin dia tau kebenaran islam namun dia tak sehat fisik.
3.       Hidayah agar diberi kemauan untuk mencari ilmu.
Ada orang yang sudah bisa mendapatkan 2 hidayah diatas, tapi dia tak mempunyai kemauan untuk mencari ilmu. Tau kebenaran islam, punya kemampuan dan kekuatan namun tak punya kemauan mencari ilmu. Kadang manusia itu lucu, untuk kehidupan yang sementara di dunia mereka berlomba2 tapi tak mau mencari ilmu untuk kehidupan yang kekal di akhirat.
4.       Hidayah untuk mengamalkan ilmu
Mengamalkan ilmu itu lebih sulit daripada mencari ilmu. Contoh kecilnya saja, saat sholat subuh banyak masjid yang kosong. Hanya segelintir orang saja yang berjamaah. Padahal sudah jelas bahwa sholat berjamaah itu diwajibkan oleh Allah kepada orang lelaki.
Imam adz dzahabi seorang ulama di abad 8 H, beliau mengatakan “adapun pada hari ini, ilmu yang tersisa Cuma sedikit, yang punya ilmu sedikit itu orang sedikit. Diantara orang2 yang punya ilmu itu yang mengamalkan ilmu lebih sedikit lagi.”.
5.       Hidayah supaya istiqomah mengamalkan ilmu
Ada sebagian orang yang tak mengamalkan ilmu tak istiqomah. Mungkin pada saat pertama2 dia sangat rajin, tapi kemudian dia berkurang jadi tak istiqomah dalam mengamalkannya. Bisa jadi dia karena salah pergaulan.
6.       Hidayah agar dijauhkan dari faktor2 yang mengganggu pengamalan ilmu,.
Namanya godaan itu selalu saja ada. Ingin haji ada godaannya, ingin sholat berjamaah adaa lagi godaannya. Inilah yang perlu kita mintakan perlindungan kepada Allah.
7.       Hidayah agar mendapat tambahan ilmu yang lebih banyak
Jangan pernah kita puas dengan ilmu yang kita dapatkan, terusla minta pertolongan Allah agar terus diberi hidayah dalam mencari ilmu.
8.       Hidayah untuk mengetahui tujuan utama jalan yang kita tempuh
Tujuan hidup adalah mencari ridho Allah, maka itu dalam beribadahpun kita harus mencari ridho Allah. Jangan beribadah seenak sendiri.
9.       Hidayah agar senantiasa butuh kepada hidayah
Maka di dalam sholat, kita selalu membaca “Tunjukilah kami pada jalan yang lurus”, minimal 17x sehari.
10.   Hidayah untuk mengetahui 2 jalan yang menyimpang
Yaitu orang yang tak mengamalkan ilmu dan yang tak mau mengamalkan ilmu. Dan Allah sebutkan dalam surat al fatihah.

Rabu, 11 Maret 2015

Doa Nabi Adam

Surat Al A'raf ayat 23
qaalaa Rabbanaa dholamnaa anfusanaa wa-illam taghfir lanaa watarhamnaa lanakuunanna minalkhoosiriina
 
Artinya : Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. 

Berapa sering kita mendholimi diri kita sendiri. Kita telah diberi banyak kenikmatan oleh Allah yang tidak terkira. Kita telah diberi tubuh yang sempurna, namun kita gunakan tubuh ini untuk berbuat maksiat terhadap Allah. Ketika panggilan Adzan telah datang, tapi kita tidak bersegera untuk mengerjakan sholat. dan masih banyak kemaksiatan2  yang selalu kita lakukan hampir tiap hari. Bayangkan berapa tumpukan dosa yang kita lakukan. Namun Allah tetap memberikan rahmatnya kepada para hambanya, walau para hambanya telah bermaksiat kepadanya.

Seharusnya kita merasa malu kepada Allah dan segera bertobat. Jangan kita menunda2 tobat kita, karena kita tak tahu sampai kapan umur kita. Mari kita menjadi hamba yang senantiasa bertobat kepada Allah.

Sabtu, 21 Februari 2015

Golongan yang minta tangguh di hari kiamat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada empat golongan, kelak pada hari kiamat  akan berhujah dan minta ditangguhkan perkaranya. Orang tuli yang tidak bisa mendengar apapun, orang pandir, orang pikun, dan yang  terakhir orang yang hidup pada masa-masa kekosongan tidak ada rasul.
Adapun orang yang tuli, maka ia membela dirinya dengan mengatakan: “Ya Rabb, sungguh Islam telah datang, namun diriku tidak mendengar apapun tentangnya”.
Sedangkan orang yang pandir, mengatakan: “Ya Rabb, Islam telah datang, akan tetapi saya tidak mengerti sama sekali, sedangkan anak-anak kecil melempariku dengan kotoran hewan”.
Orang yang pikun membela dan berkata: “Ya Rabb, Islam datang, namun saya tidak mengerti sama sekali”. Adapun orang yang meninggal pada masa-masa fatroh (tidak ada Nabi maupun Rasul), maka ia mengatakan: “Ya Rabb, Engkau tidak pernah mengutus padaku seorang rasul”.
Maka setelah itu mereka semua diambil sumpahnya agar mentaati -Nya dan diutus pada mereka yang menyuruh agar semuanya masuk ke dalam api. Barangsiapa yang memasukinya maka rasa dingin dan keselamatan yang ia peroleh, dan barangsiapa yang enggan memasukinya maka ia ditarik darinya”.
Hadits ini Shahih, dikeluarkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar, Ibnu Abi ‘Ashim di dalam kitabnya ‘as-Sunnah’, dan al-Baihaqi di dalam ‘al-I’tiqad’, semuanya dari Abu Hurairah dan dari al-Aswad bin Sura’i.
Al-Baihaqi mengatakan: “Sanadnya Shahih”.
Oleh: Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari [Diterjemahkan Abu Umamah Arif Hidayatullah melalui IslamHouse.com]

Jumat, 20 Februari 2015

HIDUP SURI

Istilah yang sering kita dengar adalah mati suri. Itu merupakan sebuah istilah untuk menjuluki kondisi di mana sesorang tampaknya mati, tetapi sebenarnya masih hidup. Adapun judul di atas; hidup suri adalah kebalikan mati suri. Itu adalah istilah yang kami buat sendiri untuk menjuluki orang yang tampaknya hidup, padahal sebenarnya ia mati. Siapakah dia? Dia adalah orang yang enggan berdzikir!
Perlu diketahui, bahwa selain memotivasi para hamba-Nya untuk banyak berdzikir, Allah ta’ala juga mengingatkan mereka agar tidak lalai dari berdzikir. Bahkan terkadang Allah menggabungkan antara keduanya. Antara lain dalam firman-Nya,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ.

Artinya: “Ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Serta janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. QS. Al-A’raf (7): 205.
Kebutuhan seorang hamba kepada dzikir melebihi kebutuhan seekor ikan terhadap air, sebab dzikir merupakan sumber kehidupan hati. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam memberikan sebuah perumpamaan yang sangat buruk bagi manusia yang enggan berdzikir. Kata beliau,
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ“.
“Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dan orang yang mati”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu ’anhu.
Berdasarkan keterangan di atas, hati para manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga jenis:
Pertama: Hati yang hidup dan sehat. Adalah hati yang senantiasa dipenuhi dengan dzikrullah. Hati yang mengikhlaskan seluruh amalannya hanya untuk Allah ta’ala. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian karena Allah semata. Dalam bertindak dan berlaku, selalu yang dijadikan sebagai patokan adalah keridaan Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam bukan yang lain.
Kedua: Hati yang mati. Adalah hati yang kosong dari dzikrullah. Hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak beribadah pada-Nya, tidak menjalankan perintah-Nya maupun menjauhi larangan-Nya. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian semata karena menuruti hawa nafsunya.
Ketiga: Hati yang sakit. Adalah hati yang masih hidup namun menderita penyakit. Tergantung unsur mana yang lebih dominan. Terkadang penyakitnya berkurang karena porsi dzikirnya ia tingkatkan. Namun seringkali, penyakitnya semakin parah, karena terlalu lama tidak berdzikir, sehingga hampir-hampir ia mati.
Hati pertama adalah hati yang subur dan lembut. Hati kedua adalah hati yang tandus dan mati. Hati ketiga adalah hati yang sakit, kadangkala mendekati kesembuhan dan tidak jarang pula mendekati kematian. Nomor berapakah hati kita?
@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1433 / 12 Maret 2012

Rabu, 18 Februari 2015

BERHAJI TANPA KE MEKAH


Berhaji adalah sebuah impian hampir semua kaum muslimin. Bukan hanya karena itu merupakan rukun islam yang ke 5, tapi karena pahala yang disediakan untuk orang yang berhaji itu luar biasa.
Rosul bersabda : barangsiapa yang berhaji kemudian dia tidak mengotori ibadah  haji dengan hub suami istri serta dan pemanasannya, serta dia takmengotori dg dosa. Maka dia akan kembali dg suci bagikan bayi yg baru lahir. HR BUKHARI MUSLIM
Rosul bersabda " haji yang makbrur tiada pahala lain selain masuk surga. " Hr Bukhari muslim

Hal lain yang membuat ingin berhaji adalah krinduan umat muslim untuk pergi ke mekah, ini sesuai dengan do’a yg dipanjatkan oleh nabi ibrohim
                                                               
Sayangnya untuk pergi berangkat haji biayanya tidak murah(35jt), itupun masih harus menunggu giliran. Sehingga tidak semua orang bisa mendapat kesempatan pergi ke mekah. Kemudian apa solusinya? Allah maha pengasih dan penyayang, DIA memberi solusi amalah yang amalannya seperti berhaji`
1.        Pergi ke masjid tidak ada maksud lain belajar agama atau mengajarkannya
HR imam al hakim
Rosul bersabda : barang siapa yg pergi ke masjid dg tidak ada lain belajar kebaikan atau mengajarkannya, dia  mendapatkan pahala orang yg berhaji sempurna.
2.       Duduk di masjid setelah sholat subuh,  berdzikir sampai matahari terbit dan sholat 2 rokaat.
HR tirmidzi dinilai hasan oleh al albani
Rosul bersabda : barang siapa sholat subuh berjamaah kemudian dia duduk dzikir pada Allah sampai terbit matahari. Kemudian sholat 2 rakaat, dia akan mendapatkan pahala orang yg berhaji dan umroh, sempurna, sempurna,sempurna.
Berdzikir disini bukan Cuma mengucapkan subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar tapi membaca al quran itu jg termasuk berdzikir.
Rosul suatu saat didatangi putrinya  fatimah, dia mengadu ttg banyaknya pekerjaan rumah.
Fatimah :“wahai rosul, pekerjaan saya banyak sekali bisakah mencarikan pembantu?”
Rosul :“wahai anakku, maukah engkau kuberikan yg lebih baik? Jangan lupa engkau dan suamimu sebelum tidur membaca tasbih 33x(subhanallah), tasbih 33 x(alhamdulillah), takbir 34x(allahu akbar).
Dan benar setelah itu mereka tak butuh pembantu, karena dikaruniai fisik yang kuat. Inilah pentingnya dzikir sesudah subuh.

Selasa, 10 Februari 2015

KEUTAMAAN MENCARI ILMU





Kita semua tahu bahwa Dzikir itu adalah ibadah yang sangat mulia dan berpahala luar biasa. Tapi ternyata ada ibadah yang lebih mulia dari dzikir, karena ini adalah penentu benar tidaknya smua ibadah. Yaitu menuntut ilmu agama. Dengan menuntut ilmu agama, kita menjadi tahu apakah ibadah2 yg kita lakukan ini sudah baik atau belum. 

Sehingga para ulama mengatakan bahwa majlis ta’lim itu lebih afdol daripada majlis dzikir. Karena mencari ilmu hukumnya adalah fardu ‘ain/fardu kifayah sedang berdzikir itu hukumnya sunah.

Makanya nabi bersabda “ sesungguhnya keutamaan ulama dibanding ahli ibadah, seperti kelebihannya bulan purnama dibanding bintang2”. Hr abu dawud sahih oleh imam ibn hibban dan syeh al albani.
Bulan purnama itu menerangi bumi, tapi bintang itu Cuma menerangi diri sendiri. Ulama itu manfaat yang akan menerimanya itu meluas, tapi seorang ahli ibadah itu Cuma untuk dirinya sendiri saja.
Rosul bersabda “ sesungguhnya seorang ulama itu didoakan oleh seluruh makhluk hidup di muka bumi sampai ikan didasar lautan”
Subhanallah, mengapa semua makhluk hidup itu sampai mendoakan ? karena dengan ilmu ulama maka para binatang memetik manfaatnya.
Se ekor ayam, dengan illmu dari ulama maka manusia bisa menyembelih ayam dengan benar. Karena disyariatkan jika mau menyembelih maka pisaunya harus tajam, sehingga tidak menyiksa ayam.
Itulah keutamaan mencari ilmu, maka marilah kita berlomba dalam mencari ilmu. Karena mencari ilmu itu hukumnya wajib, seperti yg disabdakan oleh rosulullah.
Hr ibn majjah sahih oleh syeh al albani
Rosul bersabda “ mencari ilmu itu hukumnya wajib untuk tiap muslim(muslimah)”
Padahal kebutuhan kita akan ilmu agama, itu melebihi dengan kebutuhan kita akan makan dan minum. Makan dan minum Cuma kita butuhkan 3x sehari, tapi ilmu agama kita butuhkan di setiap detik hidup kita. Apalagi di jaman sekarang, semua teknologi telah ada dan sangat mendukung kita dalam mencari ilmu. Ada internet, MP3, kaset, buku, majalah dsb.
Sampai Sahabat abu hurairah dan abu dzar berkata “satu bab ilmu agama kau pelajari, lebih kami cintai dari sholat sunah 1000 rakaat.”
Karena ilmu agamalah yang akan menentukan kualitas ibadah2 kita. Dan majlis ta’lim itu juga bisa dikatakan majlis dzikir, karena dzikir secara asal artinya adalah mengingat Allah. Manfaatkanlah waktu kita sebaik mungkin, karena sangat banyak amalan2 dari rosul yang belum kita amalkan. Jangan sampai kita tersesat melakukan amalan2 yang tak ada contohnya karena kita malas mencari ilmu.
Rosul bersabda “ barang siapa yg melak amalan tak ada contohnya dariku maka amalan itu tertolak “ HR muslim

Jumat, 23 Januari 2015

SEPENGGAL KISAH WAFATNYA ROSULULLAH shallallahu'alaihiwassalam

 Ustadz : Abdullah Zaen Lc. MA

KHUTBAH PERTAMA:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.


Jama’ah Jum’at rahimakumullah…
Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.
Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…
Banyak kejadian sejarah yang meninggalkan pesan, kesan dan pelajaran berharga untuk kita. Apalagi seandainya obyek sejarah tersebut adalah orang-orang besar. Terlebih lagi jika sejarah itu berbicara tentang manusia teragung sepanjang masa; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Namun demikian, realita yang ada amatlah memprihatinkan. Sejarah Nabi shallallahu’alaihi wasallam dibaca hanya di ritual-ritual tertentu yang amat jarang, yang dalam setahun bisa dihitung dengan jari.
Ini baru intensitas pembacaannya yang dikritisi. Belum jika kita cermati sejauh mana pesan sejarah tersebut digali, dipahami lalu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari? Ironis memang, di tengah gempuran dahsyat budaya dan peradaban barat, masih banyak kalangan yang kerap berkomat-kamit membaca sejarah nabinya hanya bagaikan mantra-mantra yang tidak dipahami maknanya. Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu…
Hadirin dan hadirat rahimakumullah…
Di antara penggalan sejarah yang bertaburkan banyak hikmah mulia dan pesan istimewa; kejadian meninggalnya Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam.
Peristiwa wafatnya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam merupakan musibah terbesar umat ini dan menorehkan duka yang begitu mendalam di hati mereka. Namun detik-detik peristiwa wafatnya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan berbagai kejadian di hari-hari terakhir beliau di dunia yang fana ini, memberikan begitu banyak pelajaran berharga untuk kita.[1]
Saat beliau menderita sakit parah menjelang wafatnya, para sahabat datang silih berganti untuk membesuk. Di antara mereka, adalah Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu. Dia bercerita,

“دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ، فَوَضَعْتُ يَدِي عَلَيْهِ، فَوَجَدْتُ حَرَّهُ بَيْنَ يَدَيَّ فَوْقَ اللِّحَافِ”.

 

“Aku mengunjungi Nabi shallallahu’alaihiwasallam, saat beliau dalam keadaan sakit parah. Aku pun meletakkan tanganku di atasnya. Hingga aku bisa merasakan panasnya tubuh beliau, padahal saat itu aku meletakkan tanganku di atas selimut yang dipakainya”. HR. Ibnu Majah (IV/111 no. 4096 no. 4096) dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Bushiry.
Dalam kondisi separah itu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam masih tetap pergi ke masjid untuk mengimami para sahabatnya. Ummul Fadhl radhiyallahu’anha bercerita,

“خَرَجَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَاصِبٌ رَأْسَهُ فِي مَرَضِهِ، فَصَلَّى الْمَغْرِبَ فَقَرَأَ بِالْمُرْسَلَاتِ. قَالَتْ: فَمَا صَلَّاهَا بَعْدُ حَتَّى لَقِيَ اللَّهَ”.

 

“Saat sakit, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam keluar (dari rumahnya) menuju ke kami (yang saat itu sedang menunggu di masjid). Beliau mengikatkan kain di kepalanya (untuk mengurangi rasa pening). Lalu beliau mengimami kami shalat Maghrib, dan membaca surat al-Mursalat. Itulah shalat Maghrib terakhir beliau sebelum bertemu dengan Allah”. HR. Tirmidzy (hal. 86 no. 308) dan dinyatakan hasan sahih oleh beliau.
Perlu dicatat di sini bahwa surat al-Mursalat terdiri dari lima puluh ayat!
Sidang Jum’at yang diberkahi Allah…
Bagaimana dengan hari-hari terakhir beliau setelah menunaikan shalat di rumahnya? Mari kita dengarkan Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu’anha mengisahkannya,

“ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “أَصَلَّى النَّاسُ؟”. قُلْنَا: “لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ”. قَالَ: “ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ”. قَالَتْ: فَفَعَلْنَا فَاغْتَسَلَ فَذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ.

ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَصَلَّى النَّاسُ؟” قُلْنَا: “لَا، هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ”. قَالَ: “ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ” قَالَتْ فَقَعَدَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ.

ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: “أَصَلَّى النَّاسُ؟” قُلْنَا: “لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ”. فَقَالَ: “ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ” فَقَعَدَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ.

ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: “أَصَلَّى النَّاسُ؟” فَقُلْنَا: “لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ” وَالنَّاسُ عُكُوفٌ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلَام لِصَلَاةِ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ, فَأَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ بِأَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ. فَأَتَاهُ الرَّسُولُ فَقَالَ: “إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُصَلِّيَ بِالنَّاسِ” فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ, وَكَانَ رَجُلًا رَقِيقًا: “يَا عُمَرُ صَلِّ بِالنَّاسِ” فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: “أَنْتَ أَحَقُّ بِذَلِكَ” فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ تِلْكَ الْأَيَّامَ.

 

 “Saat sakit Nabi shallallahu’alaihiwasallam semakin parah, beliau berkata, “Sudah shalatkah orang-orang?”.
“Belum, mereka menunggumu” jawab kami.
“Ambilkan untukku air di ember” perintah beliau.
Kami segera melakukan perintahnya, lalu beliau mandi. Tatkala akan bangkit berdiri, beliau tidak sadarkan diri.
Kemudian saat siuman beliau bertanya, “Sudahkah orang-orang shalat?”.
“Belum, mereka menunggumu wahai Rasulullah” jawab kami.
“Ambilkan untukku air di ember” perintah beliau.
Beliau duduk lalu mandi. Tatkala akan bangkit berdiri, beliau kembali tidak sadarkan diri.
Setelah siuman beliau bertanya, “Sudahkah orang-orang shalat?”.
“Belum, mereka menunggumu wahai Rasulullah” jawab kami.
“Ambilkan untukku air di ember” perintah beliau.
Beliau duduk lalu mandi. Tatkala akan bangkit berdiri, beliau kembali tidak sadarkan diri. Kemudian saat siuman beliau bertanya, “Sudahkah orang-orang shalat?”.
“Belum, mereka masih menunggumu wahai Rasulullah” jawab kami.
Saat itu para sahabat berdiam di masjid menunggu kedatangan Nabi shallallahu’alaihiwasallam untuk mengimami shalat Isya di akhir malam.
Nabi shallallahu’alaihiwasallam mengirim utusan ke Abu Bakar, memerintahkan beliau mengimami orang-orang.
Utusan Rasul mendatangi Abu Bakar seraya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menginstruksikan padamu agar engkau mengimami kaum muslimin”.
Abu Bakar adalah seorang yang amat perasa, beliau berkata, “Wahai Umar imamilah mereka!”.
“Engkau lebih pantas untuk itu”.
Abu Bakar pun mengimami kaum muslimin hari-hari itu”. HR. Bukhari (hal. 138 no. 687).
Pembantu kesayangan Rasul shallallahu’alaihiwasallam; Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menambahkan,

“أَنَّ أَبَا بَكْرٍ كَانَ يُصَلِّي لَهُمْ فِي وَجَعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَهُمْ صُفُوفٌ فِي الصَّلَاةِ، فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتْرَ الْحُجْرَةِ يَنْظُرُ إِلَيْنَا، وَهُوَ قَائِمٌ، كَأَنَّ وَجْهَهُ وَرَقَةُ مُصْحَفٍ، ثُمَّ تَبَسَّمَ يَضْحَكُ، فَهَمَمْنَا أَنْ نَفْتَتِنَ مِنْ الْفَرَحِ بِرُؤْيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَكَصَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَقِبَيْهِ لِيَصِلَ الصَّفَّ، وَظَنَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَارِجٌ إِلَى الصَّلَاةِ، فَأَشَارَ إِلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتِمُّوا صَلَاتَكُمْ، وَأَرْخَى السِّتْرَ، فَتُوُفِّيَ مِنْ يَوْمِهِ”.

 

“Saat Nabi shallallahu’alaihiwasallam sakit menjelang wafatnya, Abu Bakar lah yang mengimami para sahabat.
Ketika masuk hari Senin, saat itu para sahabat sedang duduk berbaris-baris menunggu shalat. Tiba-tiba Nabi shallallahu’alaihiwasallam membuka tirai pintu rumahnya untuk melihat kami. Beliau berdiri, wajahnya (bersinar indah) bagaikan kertas mushaf. Lalu beliau tersenyum bahagia. Hampir saja kami bubar karena amat bergembira melihat Nabi shallallahu’alaihiwasallam.
Abu Bakar bergerak mundur untuk bergabung dengan shaf para makmum, Karena mengira bahwa Nabi shallallahu’alaihiwasallam akan keluar untuk shalat. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengisyaratkan agar kami meneruskan shalat. Lalu menutup tirai pintunya dan wafat pada hari itu”. HR. Bukhari (hal. 136 no. 680).
Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…   
Pelajaran berharga yang bisa dipetik bertaburan dalam sepenggal kisah wafatnya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tersebut di atas.
Di antara pelajaran yang terpenting adalah: betapa besar perhatian beliau terhadap perkara shalat. Di shalat Maghrib, yang merupakan shalat terakhir beliau mengimami kaum muslimin, dalam kondisi sakit yang luar biasa parahnya, beliau membaca surat al-Mursalat, yang panjangnya 50 ayat!
Bagaimana dengan kebanyakan kita, yang selalu memilih surat-surat pendek, terutama saat shalat sendirian. Sehingga hampir-hampir selama sekian puluh tahun melakukan shalat, surat yang dibaca tidak lepas dari al-Ikhlas, al-‘Ashr dan al-Kautsar. Panjang-panjangnya: surat al-Falaq dan an-Nas!
Kemudian, lihatlah bagaimana perjuangan Nabi shallallahu’alaihiwasallam agar bisa menunaikan shalat Isya bersama para sahabatnya! Beliau ‘jatuh-bangun’, dan sempat tidak sadarkan diri tiga kali, serta mandi hingga berkali-kali, demi menyegarkan tubuhnya, supaya bisa ke masjid! Padahal sebenarnya, seorang insan yang dalam kondisi sakit seperti itu, ia berhak mendapatkan keringanan untuk shalat di rumah.
Bagaimana dengan kita yang kerap ogah-ogahan ke masjid? Shalat sering dikalahkan dengan tugas kantor, pekerjaan sekolah, menjaga toko, menunggu sawah dan seabreg urusan duniawi lainnya.
Tubuh sehat dan badan bugar, namun masih sering enggan pergi ke masjid! Bahkan mungkin ada sebagian orang yang tatkala ditegur mengapa tidak ke masjid, dia menjawab, “Sedang sakit!”. Manakala ditanya apa sakitnya, dengan enteng dia menimpali, “Sakit panu!”. Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu..
Bandingkan dengan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam yang saat menderita sakit parah seperti itu tetap berusaha pergi ke masjid, walaupun harus dipapah oleh dua orang sahabat. Aisyah radhiyallahu’anha mengisahkan,

فَوَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَفْسِهِ خِفَّةً فَخَرَجَ يُهَادَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ كَأَنِّي أَنْظُرُ رِجْلَيْهِ تَخُطَّانِ مِنْ الْوَجَعِ

 

“(Suatu hari) Nabi shallallahu’alaihiwasallam merasa agak mendingan, maka beliaupun keluar (menuju masjid) dengan dipapah dua orang. Aku melihat kedua kakinya tidak menapak tanah karena sakit yang dideritanya”. HR. Bukhari.
Semoga sepenggal kisah wafat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bisa memberikan inspirasi pada kita untuk lebih meningkatkan kembali perhatian kita pada ibadah amaliah teragung dalam Islam, yakni: shalat.
Amîn yâ Mujîbas sâ’ilîn…

نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم، وبسنة سيد المرسلين.

أقول قولي هذا، وأستغفره العظيم الجليلَ لي ولكم، ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه؛ إنه هو الغفور الرحيم…

 

Khutbah Kedua

الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار.

 

Kaum muslimin dan muslimat yang kami cintai…
Di antara bentuk perhatian ekstra Nabi shallallahu’alaihiwasallam kepada perkara shalat, wasiat beliau kepada para orang tua agar memperhatikan pendidikan shalat untuk putra-putri mereka.
Beliau berpesan,

“مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْر”.

 

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur sepuluh tahun”. HR. Abu Dawud (I/239 no. 495) dan dinilai sahih oleh al-Albani[2].
Alangkah indahnya saat adzan dikumandangkan, para bapak beserta putra-putranya berbondong-bondong menuju ke masjid memenuhi panggilan suci itu.
Namun kenyataan yang ada saat ini amat menyedihkan! Betapa banyak anak-anak yang telah berusia dewasa, sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya ke masjid! Apakah kiranya jawaban yang dipersiapkan orang tua mereka, manakala kelak ditanya oleh Allah tabaraka wa ta’ala di padang mahsyar, tentang amanah anak yang telah diembankan-Nya pada mereka?

هذا؛ وصلوا سلموا -رحمكم الله- على سيد الأولين والآخرين، كما أمركم بذلك رب العالمين، فقال تعالى قولاً كريماً: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Rajab 1432 / 3 Juni 2011